Kamis, 03 Juni 2010

askep jiwa napza

A. Pengertian Penyalagunaan Zat
Penyalahgunaan zat adalah pengunaan zat secara terus-menerus bahkan sampai setelah terjadi masalah.ketergantungan zat menunjukkan kandisi yang parah dan sering diangap sebagal penyakit. Adiksi umumnya merujuk pada perilaku psikosasial yang berhubungan dengan ketergantungan zat. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi adalah peningkatan jumlah zat untuk. memperuleh efek yang diharapkan. Gejala putus zat dan toleransi merupakan tanda ketergantungan fisik (Stuart & Sundeen, 1998).

B. Rentang Respons Gangguan Penggunaan NAPZA
Rentang respon penggunaan NAPZA berfluktuasi dari kondisi yang yang ringan sampal yang berat. indikator ini berdasarkan perilaku yang ditunjukkan oleh pengguna NAPZA.
1. Respon Adaptif
2. Respon Maladaptif
Eksperimental, Rekreasional, Situasional, Peyalahgunaan, Ketergantungan (Sumber: Yosep, 2007)
Eksperimental: Kondisi pengguna taraf awal. yang disebabkan rasa ingin tahu dari remaja. Sesuai kebutuhan pada masa tumbuh kembangnya, biasanya ingin mencari pengalaman yang baru atau sering dikatakan taraf caba-coba.
Rekreasional: Penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan teman sebaya. misalnya pada waktu pertemuan malam mingguan, acara ulang tahun. Penggunaan ini mempunyai tujuan rekreasi bersama teman-temannya.
Situsional: Mempunyai tujuan secara individual. sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri. Seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk elarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapi. Misalnya individu menggunakan zat pada saat sedang mempunyai masalah, stress dan frustasi.
Penyalahgunaan: Pengguuaan zat yang sudah cukup patologis. sudah mulai digunakan secara rutin, minimal selama I bulan, sudah terjadi penyimpangan perilaku mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan sosial. pendidikan. dan pekerjaan.
Ketergantungan: Penggunaan zat yang sudah cukup berat. Telah terjadi ketergantungan fisik dan psikalogis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya toleransi dan sindroma putus zat (suatu kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara rutin pada dosis tertentu menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti memakai, sehingga menimbulkan kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang digunakan. Sedangkan toleransi adalah suatu kondisidari individu yang mengalami peningkatan dosisi (jumlah zat) untuk mencapai tujuan yang biasa diinginkan.

C. Jenis-Jenis NAPZA
NAPZA dapat dibagi kedalam beberapa golongan yaitu :
1. Narkotika
Narkotika adalah suatu obat atau zat alami. sintetis maupun sintetis yang dapat manyebatakan turunnya kesadaran. manghilangkan atau mengurangi hilang rasa atau nyeri dan perubahan kesadaran yang menimbulkan ketergantungna akan zat tersebut secara terus menerus Contoh narkotika yang terkenal adalah seperti ganja, heroin, kokain, morfin, amfetamin, dan lain-lain. Narkotika menurut UU No. 22 tahun 1997 adalah zat atau obat berbahaya yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan maupun perubahan kesadaran, hilangnya asa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Wresniwira dkk. l999).
Golongan Narkotika berdasarkan bahan pembuatannya adalah :
1) Narkotika alami yaitu zat dan obat yang langsung dapat dipakai sebagai narkotik tanpa perlu adanya proses fermentasi, isalasi dan proses lain terlebih dahulu karana bisa langsung dipakai dengan sedikit proses sederhana. Bahan alami tersebut umumnya tidak boleh dlutamakan untuk terapi pengobatan secara langsung karena terlalu beresiko. Contoh narkotika alami yaita seperti ganja dan daun koka.
2) Narkatika sintetis adalah jenis narkotika yang memerlukan proses yang bersifat sintesis untuk keperluan medis dan penelitian sebagai pengnhilang rasa sakit analgesik. Contonnya yaitu seperti amfetamin, metadon, dekstropropakasifen, deksamfetamin, dan sebagainya. Narkotika sintetis dapat menimbulkan dampak sebagai berikut :
a. Depresi = Membuat pemakaian tertidur atau tidak sadar
b. Stimulan = Membuat pemakai bersemangat dalam beraktivitas kerja dan merasa badan lebih segar.
c. Halusinogen = Dapat membuat si pemakai berhalusinasi yang mengubah perasaan serta pikiran.
3) Nankotika semi sintetis yaltu zat/obat yang diproduksi dengan cara isolasi. ekstraksi, dan lain sebagainya seperti heroin, morfin, kodein, dan lain-lain.

2. Psikotropika
Menurut Kepmenkes RI No. 996/MENKES/SK/VIII/2002, psikotropika adalah zat atau obat, baik sintasis maupun semi sintesis yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Zat yang tergolong dalam psikotropika (Hawari, 2006) adalah stimulansia yang membuat pusat syaraf menjadi sangat aktif karena merangsang syaraf simpatis. Termasuk dalam galongan stimulan adalah amphetamine, ektasi (Metamfetamin) dan Fenfluramin. Apmhetamin sering disebut dengan speed. shabu-shabu. whiz. dan sulph. Golongan stimulan lainnya adalah halusinogen dan pikiran sehingga perasaan dapat terganggu. Sedative dan hipnotika seperti berbiturat dan benzodiazepine merupakan golongan stimulant yang dapat mengakibatkan rusaknya daya ingat dan kesadaran, ketergantungan secara fisik dan psikologis bila digunakan dalam waktu lama.

3. Zat Adaptif Lainnya
Zat adiktif lainnya adalah zat bahan kimia, dan bialogi dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan lingkunqan hidup secara langsung dan tidak lansung yang mempunyai sifat karsinogenik, teratogenik, mutagenic, kurasif, dan iritasi. Bahan-bahan berbahaya ini adalah zat adiktif yang bukan termasuk ke dalam narkotika dan psikotropika, tetapi mempunyai pengaruh dan efek merusak fisik seseorang jika disalahgunakan (Wrasniworo dkk, 1999) yang termasuk zat adiktif ini antara lain: minuman keras (minuman beralkohal) yang meliputi minuman keras golongan A (kadar ethanol 1% sampai 5%) seperti bir, green san minuman teras golangan B (kadar ethanol labih dari 5% sampai 20%) seperti anggur malaga; dan minuman. keras goloangan C (kadar ethanol lebih dari 20% sanipai 55%) seperti brandy. wine. whisky Zat dalam alkohol dapat mengganggu aktivitas sehaoi-haoi bila kadarnya dalam darah mencapai 11.5% dan hampir semua akan mengalami gangguan koordinasi bila kadarnya dalam darah 0.11%
(Marviana dkk. 2000) Zat adiktif lainnya adalah nikotin, votaile, dan solvent/inhalasia.


D. Faktor Penyebab Penyalahgunaan NAPZA
Faktor yang menyebabkan sesearang menjadi pecandu narkoba yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
1. Faktar Internal
a. Faktor Kepribadian
Kepribadian seseorang turut berperan dalam perilaku ini. Hal ini lebih cenderung terjadi pada usia remaja. Remaja yang menjadi pecandu biasanya memiliki konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah. Perkembangan emosi yang tarhambat. dengen ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif, agresif, dan cenderung depresi. juga turut mempengaruhi. Selain itu. Kamampuan untuk memecahkan masaleh aecara adakuat berpengaruh terhadap baqaimana ía mudah mencari pemecahan masalah dengan cara melarikan diri.
b. Inteligensia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa inteligensia pecandu yang datang untuk melekukan kanseling di klinik rehabilitasi pada umumnya berada pada taraf di bawah rata-rata dari kelompok usianya.
c. Usia
Mayoritas Pecandu Narkoba adalah ramaja. Alasan remaja menggunakan narkoba karena kandisi social psikalogis yang membutuhkan pengakuan, dan identitas dan kelabilan emosi, sementara pada usia yang lebih tua narkoba digunakan sebagai obat penenang,
d. Dorongan kenikmatan dun Perasaan Ingin Tahu
Narkoba dapat memberikan kenikmatan yang unik dan tersendiri. Mulanya merasa enak yang diperoleh dari coba-coba dan ingin tahu atau ingin merasakan seperti yang diceritakan oleh teman-teman sebayanya. Lama kelamaan akan menjadi atau kebutuhan yang utema.
e. Pencegahan Masalah
Pada umumnya para pecandu narkoba menggunakan narkoba untuk menyelasaikan persoalan. Hal ini disebabkan karena pengaruh narkoha dapat menurunkan tingkat kesadaran dan membuatnya lupa pada permasalahan yang ada.


2. Faktor Eksternal
a. Keluarga
Keluarga merupakan faktor yang paling sering menyjadi penyabab seeorang menjadi pengguna narkoba. Berdasarkan hasil penelitian tim UKM Atma Jaya dan perguruan Tinggi Kepolisian Jakarta pada tahun 1995, terdapat beberapa tipe keluarga yang berisiko tinggi anggota keluargannya terlibat penyalahgunaan narkoba yaitu :
1) Keluarga yang memiliki riayat (termasuk orang tua) mengalami ketergantungan narkoba.
2) Keluarga dengan manajemen yang kcau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan yang tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan ibunya (Misalnya ayah bilang ya, ibu bilang tidak)
3) Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyalesaian yang memuaskan samua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah den anak, ibu dan anak, maupun antar seudara.
4) Keluarga dangan orang tua yang atoriter. Dalam hal ini, peran orang tua sangat dominan, dangan anak yang hanya sakadar harus menuruti apa kata orang tua dengan alasan sopan santun, adat istiadat. atau demi kemajuan dan masa dapan anak itu sendiri tanpa diberi kesempatan untuk berdialog dan menyatakan ketidaksetujuannya.
5) Keluarga yang perfeksionis. yaitu ketuarga yang menuntut anggotanya mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal.
6) Keluarga yang neurosis, yaltu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang kurang kuat, mudah cemas dan curiga, sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.
b. Faktor Kelompok Teman Sebaya (Peer Group)
Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara teman-teman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar banyak dalam delinquet dan penggunaan obat-abatan. Dapat dikatakan bahwa faktor-faktor spsial tersebut memiliki dampak yang berarti kepada keasyikan seseorang dalam menggunakan obat-obatan yang kemudian mengakibatkan timbulnya katengantungan fisik dan psikologis.
Sinaga (2007) melaporkan bahwa faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA pada remaja adalah teman sebaya {78,1%) Hal nii meninjukkan betapa besarnya pengarub teman klompoknya sehingga remaja menggunakan narkoba. Hasil penelitian ini relevan dengan studi yang dilakukan oleh Hawari (1990) yang memperlihatkan bahwa teman kelompak yang menyebabkan remaja memakai NAZPA mulai dari tahap coba-coba sampai ketagihan.
c. Faktor Kesempatan
Katersediaan narkoba dan kemudahan memperolehnya juga dapat disebut sebagai pamicu seseorang menjadi pecandu. Indonesia yang sudah manjadi tujuan pasar narkobaa internasianal. menyebabkan obat-abatan ini muda diperaleh. Bahkan beberape media massa melaporkan bahwa para penjual narkotika menjual barang dagangannya di sekolah-sekolah. termasuk di Sekalah Besar. Pengalaman feel goof mencoba drugs akan semakin memperkuat keinginan untuk memanfaatkan kesempatan dan akhirnya menjadi pecandu. Saseorang dapat menjadi pecandu karena disebabkan aleh beberapa faktar sekaligus atau secara bersamaan. Karena ada juga faktor yang muncul beruntun akibat dari sub faktor tententu.

E. Tanda dan Gejala
Pengaruh NAPZA pada tubuh disebut intoksikasi. Selain inteksikasi, ada juga sindroma putus zat yaitu sekumpulan gejala yang timbul akibat penggunaan zat yang dikurangi atau dihentikan. Tanda dan gejala intoksikasi dan putus zat berbeda pada jenis zat yang berbeda.
Tebel 1. Tanda dan Gejala lntoksikasi
Opiat
Ganja
Sedatif-Hipnotik
Alkohol.

• Eforia
• Mengantuk
• Bicara cadel
• Konstipasi
• Penurunan kesadaran
• Eforia
• Mata merah
• Mulut kering
• Banyak bicara dan tertawa
• Nafsu makan meningkat
• Gangguan persepsi
• Pegendalian diri berkurang
• Jalan sempoyongan
• Mengantuk
• Memperpanjang tidur
• Hilang kesadaran
• Mata merah
• Bicara cadel
• Jalan sempoyongan
• Perubahan persepsi
• Penurunan kemampuan menilai
• Selalu terdorong untuk bergerak
• Berkeringat
• Bergetar
• Cemas
• Depresi
• Paranoid

Tabel 2. Tanda dan gejala Putus Zat
Opiat
Ganja
Sedatif-Hipnotik
Alcohol
Amphetamine

• Nyeri
• Mata dan hidung berair
• Perasaan panas dingin
• Diare
• Gelisah
• Tidak bisa tidur
• Jarang ditemukan
• Cemas
• Tangan gemetar
• Perubahan persepsi
• Gangguan daya ingat
• Tidak bias tidur
• Cemsa
• Depresi
• Muka merah
• Mudah marah
• Tangan gemear
• Mual muntah
• Tidak bisa tidur
• Cemas
• Depresi
• Kelelahan
• Energy berkurang
• Kebutuhan tidur meningkat

F. Dampak Penyalahgunaan NAPZA
Martono (2006) menjelaskan bahwa penyalahgunaan NAPZA mempunyai dampak yang sangat luas bagi pemakainya (diri sendiri), keluarga, pihak sekolah (pendidikan), serta masyarakat, bangsa dan Negara.
Bagi diri sendiri. Penyalahguaan NAPZA dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otak dan perkembangan moral pemakainya, intoksikasi (keracunan), overdosis (OD), yang dapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernapasan dan perdarahan otak, kekambuhan, gangguan perilaku (mental sosial), gangguan kesehatan, menurunnya nilai-nilai dan masalah ekonomi dan hukum. Sementara itu, dari segi efek dan dampak yang ditimbulkan pada para pemakai narkoba dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan/jenis: 1) Upper yaitu jenis narkoba yang membuat si pemakai menjadi aktif seperti sabu-sabu, ekstasi dan amfetamin, 2) Downer yang merupakan golongan narkoba yang dapat membuat orang memakai jenis narkoba itu jadi tenang dengan sifatnya yang menenangkan/sedatif seperti obat tidur (hipnotik) dan obat anti rasa cemas, dan 3) Halusinogen adalah napza yang beracun karena lebih menonjol sifat racunnya dibandingkan dengan kegunaan medis.
Bagi keluarga. Penyalahgunaan NAPZA dalam keluarga dapat mengakibatkan suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu. Dimana orang tua akan merasa malu karena memiliki anak pecandu, merasa bersalah, dan berusaha menutupi perbuatan anak mereka. Stress keluarga meningkat, merasa putus asa karena pengeluaran yang meningkat akibat pemakaian narkoba ataupun melihat anak yang harus berulangkali dirawat atau bahkan menjadi penghuni di rumah tahanan maupun lembaga permasyarakatan.
Bagi pendidikan atau sekolah. NAPZA akan merusak disiplin dan motivasi yang sangat tinggi untuk proses belajar. Penyalahgunaan NAPZA berhubungan dengan kejahatan dan perilaku asosiasi lain yang menganggu suasana tertib dan aman, rusaknya barang-barang sekolah dan meningkatnya perkelahian.
Bagi masyarakat, dan negara. Penyalahgunaan NAPZA mengakibatkan terciptanya hubungan pengedar narkoba dengan korbannya sehingga terbentuk pasar gelap perdagangan NAPZA yang sangat sulit diputuskan mata rantainya. Masyarakat yang rawan narkoba tidak memiliki daya tahan dan kesinambungan pembangunan terancam.
Akibatnya negara mengalami kerugian karena masyarakat tidak produktif, kejahatan meningkat serta sarana dan prasarana yang harus disediakan untuk mengatasi masalah tersebut.

G. Penanggulangan Masalah NAPZA
Penanggulangan masalah NAPZA dilakukan mulai dari pencegahan, pengobatan sampai pemulihan (rehabilitasi).
1. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan, misalnya dengan :
a. Memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang NAPZA.
b. Deteksi dini perubahan perilaku
c. Menolak tegas untuk mencoba (“Say no to drugs”) atau “Katakan tidak pada narkoba.

2. Pengobatan
Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat, dengan dua cara yaitu :
a. Detoksifikasi tanpa subsitusi
Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti menggunakan zat yang mengalami gejala putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri.
b. Detoksifikasi dengan substitusi
Patau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya kodein, bufremorfin, dan metadon, substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas, misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang menghilangkan gejalasimptomatik, misalnya obat penghilang rasa nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang ditimbulkan akibat putus zat tersebut.

3. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu mellaui pendekatan non medis, psikologis, social dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita sindroma ketergantunga dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memilikitenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (Depkes, 2000).
Sesudah klien penyalahgunaan/ketergantungan NAPZA menjalani program terapi (detoksifikasi) dan konsultasi medik selama 1 (satu) minggu dan dilanjutkan dengan program pemantapan (pascadetoksifikasi) selama 2 (dua) minggu, maka yang bersangkutan dapat melanjutkan ke program berikutnya yaitu rehabilitasi (Hawari, 2003).
Lama rawat di unit rehabiliasi untuk setiap rumah sakit tidak sama karena tergantung pada jumlah dan kemampuan sumber daya, fasilitas, dan sarana penunjang kegiatan yang tersedia di rumah sakit. Menurut Hawari (2003), bahwa setelah klien mengalami perawatan selama 1 minggu menjalani program terapi dan dilanjutkan dengan pemantapan terapi selama 2 minggu maka klien tersebut akan dirawat di unit rehabilitasi (rumsah sakit, pusat rehabilitasi, dan unit lainnya) selama 3-6 bulan. Sedangkan lama rawat di unit rehabilitasi berdasarkan parameter sembuh menurut medis bisa beragam 6 bulan 1 tahun, mungkin saja bisa sampai 2 tahun.
Berdasarkan pengertian dan lama rawat di atas, maka perawat di ruang rehabilitasi tidak terlepas dari perawatan sebelumnya yaitu di ruang detoksifikasi. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada bagian di bawah ini (bagan 1).
Bagan 1. Alur Perawatan Klien di Rumah Sakit
Klien datang ↑ Ke RS
Perawatan
Detoksifikasi
Perawatan rehabilitasi
(ruang rehabilitasi)

Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang telah selesai menjalani detoksifikasi sebagian besar akan mengulangi kebiasaan menggunakan NAPZA oleh karena rasa rindu (crawing) terhadap NAPZA yang selalu terjadi (DepKes, 2000). Dengan rehabilitasi diharapkan pengguna NAPZA dapat :
1. Mempunyai motivasi kuat untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi
2. Mampu menolak tawaran penyalahgunaan NAPZA
3. Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa rendah dirinya
4. Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan baik
5. Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja
6. Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik alam pergaulan dengan lingkungannya

Jenis program rehabilitasi:
a) Rehabilitasi psikososial
Program rehabilitasi psikososial merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat (reentry program). Oleh karena itu, klien perlu dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan misalnya dengan berbagai kursus atau balai latihan kerja di pusat-pusat rehabilitasi. Dengan demikian diharapkan bila klien selesai menjalani program rehabilitasi dapat melanjutkan kembali sekolah/kuliah atau bekerja.
b) Rehabilitasi kejiwaan
Dengan menjalani rehabilitasi diharapkan agar klien rehabilitasi yang semua berperilaku maladaptif berubah menjadi adaptif atau dengan kata lain sikap dan tindakan antisosial dapat dihilangkan, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan sesama rekannya maupun personil yang membimbing dan mengasuhnya. Meskipun klien telah menjalani terapi detoksifikasi, seringkali perilaku maladaptif tadi belum hilang, keinginan untuk menggunakan NAPZA kembali atau craing masih sering muncul, juga keluhan lain seperti kecemasan dan depresi serta tidak dapat tidur (insomnia) merupakan keluhan yang sering disampaikan ketika melakukan konsultasi dengan psikiater. Oleh karena itu, terapi psikofarmaka masih dapat dilanjutkan, dengan catatan jenis obat psikofarmaka yang diberikan tidak bersifat adiktif (menimbulkan ketagihan) dan tidak menimbulkan ketergantungan. Dalam rehabilitasi kejiwaan ini yang penting adalah psikoterapi baik secara individumaupun secara kelompok. Untuk mencapai tujuan psikoterapi, waktu 2 minggu (program pascadetoksifikasi) memang tidak cukup, oleh karena itu,perlu dilanjutkan dengan waktu 3-6 bulan (program rehabilitasi). Dengan demikia dapat dilaksanakan bentuk psikoterapi yang tepat bagi masing-masing klien rehabilitasi. Yang termasuk rehabilitasi kejiwaan ini adalah psikoterapi/konsultasi keluarga yang dapat dianggap sebagai rehabilitasi keluarga terutama keluarga broken home. Gerber (1983 dikutip dari Hawari, 2003) menyatakan bahwa konsultasi keluarga perlu dilakukan agar keluarga dapat memahami aspek-aspek kepribadian anaknya yang mengalami penyalahgunaan NAPZA.
c) Rehabilitasi komunitas
Berupa program terstruktur yang diikuti oleh mereka yang tinggal dalam satu tempat. Dipimpin oleh mantan pemakai yang dinyatakan memenuhi syarat sebagai koselor, setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan. Tenaga profesional hanya sebagai kansultan saja. Di sini klien dilatih keterampilan mengelola waktu dan perilakunya secara efektif dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat mengatasi keinginan mengunakan narkoba lagi atau nagih (craving) dan mencegah relaps. Dalam program ini semua kilen ikut aktif dalam proses terapi. Mereka bebas menyatakan perasaan dan perilaku sejauh tidak membahayakan orang lain. Tiap anggota bertanggung jawab terhadap perbuatannya, penghargaan bagi yang berperilaku positif dan hukuman bagi yang berperilaku negatif diatur oleh mereka sendiri.
d) Rehabilitasi keagamaan
Rehabilitasi keagamaan masih perlu dilanjutkan karena waktu detoksifikasi tidaklah cukup untuk memulihkan klien rehabilitasi menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing. Pendalaman, penghayatan, dan pengamalan keagamaan atau keimanan ini dapat menumbuhkan kerohanian (spiritual power) pada diri seseorang sehingga mampu menekan risiko seminimal mungkin terlibat kembali dalam penyalahgunaan NAPZA apabila taat dan rajin menjalankan ibadah, risiko kekambuhan hanya 6,83%; bila kadang-kadang beribadah risiko kekambuhan 21,50%, dan apabila tidak sama sekali menjalankan ibadah agama risiko kekambuhan mencapai 71,6%.


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN NAPZA


A. Pengkajian
1. Kaji situasi kondisi penggunaan zat
 Kapan zat digunakan
 Kapan zat menjadi lebih sering digunakan/mulai menjadi masalah
 Kapan zat dikurangi/dihentikan, sekalipun hanya sementara
2. Kaji risiko yang berkaitan dengan penggunaan zat
 Berbagi peralatan suntik
 Perilaku seks yang tidak nyaman
 Menyetir sambil mabuk
 Riwayat over dosis
 Riwayat serangan (kejang) selama putus zat
3. Kaji pola penggunaan
 Waktu penggunaan dalam sehari (pada waktu menyiapkan makan malam)
 Penggunaan selama seminggu
 Tipe situasi (setelah berdebat atau bersantai di depan TV)
 Lokasi (timbul keinginan untuk menggunakan NAPZA setelah berjalan melalui rumah Bandar)
 Kehadiran atau bertemu orang-orang tertentu (mantan pacar, teman pakai)
 Adanya pikiran-pikiran tertentu (“Ah, sekali nggak bakal ngerusak” atau “Saya udah nggak tahan lagi nih, saya harus make”)
 Adanya emosi-emosi tertentu (cemas atau bosan)
 Adanya faktor-faktor pencetus (jika capek, labil, lapar, tidak dapat tidur atau stress yang berkepanjangan)
4. Kaji hal baik/buruk tentang penggunaan zat maupun tentang kondisi bila tidak menggunakan

B. Diagnosa Keperawatan
Koping Individu tidak efektif: belum mampu mengatasi keinginan menggunakan zat.


C. Tindakan Keperawatan
Strategi Pertemuan 1- klien:
1) Mendiskusikan dampak penggunaan NAPZA bagi kesehatan, cara meningkatkan motivasi berhenti, dan cara mengontrol keinginan.
2) Melatih cara meningkatkan motivasi dan cara mengontrol keinginan
3) Membuat jadwal latihan

Latihan SP 1-Klien
Orientasi
“Selamat pagi Dik, perkenalkan saya suster M”. “Nama adik siapan?” “Lebih senang dipanggil apa” “Bagaimana keadaan kamu pagi ini?” “Kalau A tidak keberatan, selama 20 menit kedepan kita akan bercakap-cakap tentang kesehatan A?” “Bagaimana kalau kita bercakap-cakap di teras depan ruangan A?”
Kerja
“Apa yang biasa A pakai sebelum masuk ke pusat rehabilitasi ini?” “Ganja?””Apakah ada keluhan dengan kesehatan A?” “Bagaimkana hubungan A dengan teman-teman A?” “Bagaimana dengan sekolah A?” “Sejak kapan A menggunakan ganja?” “Pada situasi yang bagaimana timbul keinginan A menghisap ganja?” “Apa saja akibat yang A rasakan kalau menghisap ganja?” Koping individu tidak efektif: belum mampu mengatasi keinginan menggunakan zat.

“Apakah A ingin berhenti?” “Bagus!” “Berapa kali A mencoba berhenti?” “Bagaimana perasaan A ketika tidak menghisap ganja?” Apa yang menyebabkan A memakai ganja lagi?” “Baiklah kalau begitu, Suster akan jelaskan akibat kesehatan yang dapat terjadi. (Jelaskan sesuai jenis NAPZA yang dipakai, tabel 1 dan 2). “Yang mana yang sudah A alami?” “Jadi A ingin coba berhenti?”
“Sekarang mari kita bicarakan apa-apa saja yang masih dapat dibanggakan dari A, kita mulai dari :
• Diri A: “Coba A lihat aspek positif yang masih A miliki.” “Betul A masih sangat muda, punya pendidikan, sehat daan masa depan yang cerah sedang menunggu kamu,m bagus sekali.”
• Keluarga A: “A masih punya ayah, ibu, dan saudara-saudara kamu yang begitu perhatian dengan kami”. “Ternyata banyak sekali hal positif yang ada pada A” “Sekarang bagaimana kalau A berlatih mensyukuri hal positif yang ada pada A” “Katakan saya masih muda, saya harus berhenti!”


“Bagaimana kalau kita teruskan diskusi tentang cara-cara menghindari penggunaan ganja.” “Ada beberapa cara yaitu :
1. Hindari teman-teman A yang menawarkan ganja
2. Kunjungi teman-teman yang tidak menggunakan
3. Bicara pada teman-teman yang berhasil berhenti
4. Kalau pergi keluar dari rumah sebaiknya ditemani keluarg
“Selain itu lakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.” “Apa contohnya A?” “Bagus!” “Mari kita buat jadwal kegiatannya.”
Terminasi
“Bagaimana perasaan A setelah bercakap-cakap?” “Baguis sekali.” “Nah, suster mau tanya lagi:
“Coba A sebutkan kembali hal-hal positif yang masih A miliki!” “Bagus sekali” “Yang mana yang mau dilatih?” “Saya bisa berhenti.” (Afirmasi).
“Sekarang coba sebutkan kembali cara menghindari penggunaan ganja! “Benar” “Yang mana yang mau dilatih” “Nah, masukkan dalam jadwal latihannya dan dicoba” “Besok pagi suster akan datang kembali, kita akan diskusikan lagi hasil latihannya dan kita latih cara yang lain.” “Bagaimana A” “Baiklah kalau begitu besok jam 11.00 kita ketemu ya.” “Sampai jumpa”
Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perawat untuk membantu klien mengatasi craving / nagih (keinginan untuk menggunakan kembali NAPZA) adalah sebagai berikut: 1) identifikasi rasa nagih muncul, 2) ingat diri sendiri, rasa nagih normal muncul saat kita berhenti, 3) ingatlah rasa nagih seperti kucing lapar, semakin lapar, semakin diberi makan semakin sering muncul, 4) cari seseorang yang dapat mengalihkan dari rasa nagih, 5) coba menyibukkan diri saat rasa nagih datang, 6) tundalah penggunaan sampai beberapa saat, 6) bicaralah pada seseorang yang dapat mendukung, 7) lakukan sesuatu yang dapat membuat rileks dan nyaman, 7) kunjungi teman-teman yang tidak menggunakan narkoba, 8) tontonlah video, ke bioskop atau dengar musik yang dapat membuat rileks, 9) dukunglah usaha anda untuk berhenti sekalipun sering berakhir dengan menggunakan lagi, 10) bicara pada teman-teman yang berhasil berhenti, dan 11) bicaralah pada teman-teman tentang bagaimana mereka menikmati hidup atau rilekslah untuk dapat banyak ide.
Menurut Keliat dkk. (2006). Tujuan tindakan keperawatan untuk keluarga adalah sebagai berikut:
1) Keluarga dapat mengenal masalah ketidakmampuan anggota keluarganya berhenti menggunakan NAPZA.
2) Keluarga dapat meningkatkan motivasi klien untuk berhenti.

3) Keluarga dapat menjelaskan cara merawat klien NAPZA.
4) Keluarga dapat mengidentifikasi kondisi pasien yang perlu dirujuk

Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan pada keluarga antara lain :
1) Diskusikan tentang masalah yang dialami keluarga dalam merawat klien.
2) Diskusikan bersama keluarga tentang penyalahgunaan/ketergantungan zat (tanda, gejala, penyebab, akibat) dan tahapan penyembuhan klien (pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi).
3) Diskusikan tentang kondisi klien yang perlu segera dirujuk seperti: intoksikasi berat, misalnya penurunan kesadaran, jalan sempoyongan, gangguan penglihatan (persepsi), kehilangan pengendalian diri, curiga yang berlebihan, melakukan kekerasan sampai menyerang orang lain. Kondisi lain dari klien yang perlu mendapat perhatian keluarga adalah gejala putus zat seperti nyeri (Sakau), mual sampai muntah, diare, tidak dapat tidur, gelisah, tangan gemetar, cemas yang berlebihan, depresi (murung yang berkepanjangan).
4) Diskusikan dan latih keluarga merawat klien NAPZA dengan cara: menganjurkan keluarga meningkatkan motivasi klien untuk berhenti atau menghindari sikap-sikap yang dapat mendorong klien untuk memakai NAPZA lagi (misalnya menuduh klien sembarangan atau terus menerus mencurigai klien memakai lagi); mengajarkan keluarga mengenal ciri-ciri klien memakai NAPZA lagi (misalnya memaksa minta uang, ketahuan berbohong, ada tanda dan gejala intoksikasi); ajarkan keluarga untuk membantu klien menghindar atau mengannkan perhatian dari keinginan untuk memakai NAPZA lagi, anjurkan keluarga memberikan pujian bila klien dapat berhenti walaupun 1 hari, 1 minggu atau 1 bulan; dan anjurkan keluarga mengawasi klien minum obat.

Strategi Pertemuan dengan Pasien dan Keluarga Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAPZA
Tanggal/Bulan
No.
Kemampuan Pasien dan Keluarga
A Pasien
Sp1
1. Membina hubungan saling percaya
2. Mendiskusikan dampak NAPZA
3. Mendiskusikan cara meningkatkan motivasi
4. Mendiskusikan cara mengontrol keinginan
5. Latihan cara meningkatkan motivasi
6. Latihan cara mengontrol keingan
7. Membuat jadwal aktivitas
Sp 2
1. Mendiskusikan cara menyelesaikan masalah
2. Mendiskusikan cara hidup sehat
3. Latihan cara menyelesaikan masalah
4. Latihan cara hidup sehat
5. Mendiskusikan tentang obat

B Keluarga
Sp 1
1. Mendiskusikan masalah yang dialami
2. Mendiskusikan tentang NAPZA
3. Mendiskusikan tahapan penyembuhan
4. Mendiskusikan cara merawat
5. Mendiskusikan kondisi yang perlu dirujuk
6. latihan cara merawat
Sp 2
1. Mendiskusikan cara meningkatkan motivasi
2. Mendiskusikian pengawasan dalam minum obat
(Sumber: Keliat dkk, 2006)

D. Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan dari klien adalah sebagai berikut :
1. Klien mengetahui dampak NAPZA
2. Klien mampu melakukan cara meningkatkan motivasi untuk berhenti menggunakan NAPZA
3. Klien mampu mengontrol kemampuan keinginan menggunakan NAPZA kembali
4. Klien dapat menyelesaikan masalahnya dengan koping yang adaptif
5. Klien dapat menerapkan cara hidup yang sehat
6. Klien mematuhi program pengobatan

Evaluasi yang diharapkan dari keluarga adalah sebagai berikut :
1. Keluarga mengetahui masalah yang dialami klien
2. Keluarga mengetahui tentang NAPZA
3. Keluarga mengetahui tahapan proses penyembuhan klien
4. Keluarga berpartisipasi dalam merawat klien
5. Keluarga memberikan motivasi pada kilien untuk sembuh
6. Keluarga mengawasi klien dalam minum obat

E. Dokumentasi Asuhan Keperawatan
CATATAN KEPERAWATAN
Nama Klien : AY
Nama Ruang : Anggrek
No. RM : 02-02-7788
Tanggal : 08-08-2008
Data
Ay (20 tahun) mahasiswa salah satu PTS di Kota Medan sudah 2 tahun terakhir ioni menggunakan shabu-shabu. Sebelum menggunakan shabu-shabu, klien mengkonsumsi ectasy. Keluarga sudah 2 kali membawa AY ke patni rehabilitasi untuk mendapat pengobatan. Biasanya setelah menjalani rehabilitasi klien berhenti menggunakan shabu-shabu. Akan tetapi waktunya tidak lama paling lama 6 bulan. Ini kali ketiga klien dirawat dip anti rehabilitasi. Klien mengatakan sudah berusaha untuk menghentikan kebiasaan mengkonsumsi shabu-shabu. Tetapi keinginan itu tidak bertahan lama karena dia sering ketemu dan berkumpul bersama teman-teman pemakai NAPZA. Klien sulit untuk menolak ajakan teman-temannya.

Diagnosa Keperawatan :
Koping individu tidak efektif: belum mampu mengatasi keinginan menggunakan zat.

Tindakan Keperawatan :
1. Mendiskusikan tentang dampak penggunaan NAPZA bagi kesehatan
2. Mendiskusikan tentang cara meningkatkan motivasi untuk berhenti
3. Mendiskusikan tentang cara menghindar dari teman-teman pemakai NAPZA
4. Mendiskusikan tentang cara penyelesaian masalah secara sehat
5. Mendiskusikan tentang gaya hidup yang sehat
6. Melatih cara untuk menghindar dan mengontrol keinginan menggunakan NAPZA kembali
7. Melatih cara menyelesaikan masalah: dicurigai/dituduh menggunakan NAPZA kembali oleh keluarga/sekolah/pekerjaan.


Evaluasi :
S : Klien berjanji akan menghindari teman-temannya yang masih menggunakan NAPZA.
O : Klien tampak tidak mau menemui teman kelompoknya ketika berkunjung untuk menjenguknya di panti rehabilitasi.
A : Keinginan untuk menggunakan kembali NAPZA terkadang muncul.
P : Menganjurkan klien untuk menambah kegiatan yang bersifat positif seperti aktif dalam kegiatan ibadah dipanti rehabilitasi, olahraga melanjutan kembali membua jadwal kegiatan klien.

Tanda tangan :
Nama Perawat :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar